Wednesday, December 16, 2015

shanti pacarku yang yang ketiga


Saat Smu yaitu saat masa yang memanglah asyik di mana jalinan cintaku yang berlangsung 3 th. di SMA serta 3 kali juga saya berpacaran, pertama waktu kelas 1 saya berpacaran dengan satu diantara cewek popular di sekolahku jalinan kami singkat cuma bertahan 2 bln..

Cerita Ngentot Ibu Shanti Meronta Kenikmatan Saat di kelas 2 aku berpacaran dengan cewek manis hampir satu tahun aku bersama cewek ke duaku, karena sebab yang lain jadi kita putus saat naik ke kelas 3 selang beberapa minggu saat kita putus dan hubungan yang kali ini agak terasa aneh dan tak terduga di mana awal cerita aku sendirian dirumah sedang duduk di depan tv.

Namun lama kelamaan saya terasa jemu. Saya mengambil keputusan untuk keluar sebentar mencari rokok, mumpung ke-2 orang tuaku tengah tak dirumah, serta saya dapat bebas merokok. Serta saya juga keluar dengan sepeda motorku.

Basic sial warung rokok dekat rumahku tutup seluruhnya, serta langit mulai tertutup mendung. Saya sangsi sesaat, bingung apakah selalu mencari warung yang buka atau pulang saja, namun setahuku di dekat jalan raya sana ada warung yang buka.

Saya mengambil keputusan tetep mencari rokok ke warung di depan sana. Serta memanglah pada akhirnya saya dapat memperoleh rokok di warung itu. Gerimis mulai turun. Saat saya tengah terburu-buru menyalakan mesin motorku, kulihat seorang yang kukenal.

“Hei, Bu Shanti! ” saya memanggil wanita itu. Ia melihat serta tersenyum sembari menghampiriku.

“Hei Jo! Lagi apa anda? Beli rokok ya? ” bertanya wanita itu.

“He.. He.. Ibu tahu saja! ” “Sudah Ibu katakan, janganlah umumnya merokok! ” kata Bu Shanti, ”Nggak baik untuk kesehatan. ”

Saya hanya cengar-cengir. Bu Shanti yaitu guru privat adikku yang masih tetap kelas 6 SD. Satu minggu 2 x Bu Shanti ke rumahku untuk berikan les untuk adikku. Serta Bu Shanti telah jadi guru les adikku mulai sejak 3 bln. waktu lalu.

“Ibu ingin ke rumah kan? Bareng yuk, keburu hujan. ”Sejak pertama kalinya bersua Bu Shanti, diam-diam saya mengaguminya. Ia cantik serta anggun, juga baik hati, cerdas serta ramah. Saya paling sukai lihat Bu Shanti waktu ia menerangkan pelajaran untuk adikku.

Lama-lama rasa mengagumi akan itu beralih jadi cinta, namun tetap harus saya tidak pernah berani mengatakannya. Ya, janganlah kaget, pacar ketigaku-ya-Bu Shanti itu. Saya tidak perduli beda umur yang cukup jauh (saat itu Bu Shanti berumur 28 th., serta saya 18 th.), saya terus mencintainya. Hujan makin deras, serta saat kami tiba di rumahku, kami betul-betul basah.

“Masuk, Bu. Agar kuambilkan handuk”Dan saya baru tersadar, bila Bu Shanti terlihat lebih cantik waktu rambutnya basah. Dibalik bajunya yang basah sepintas terlihat lekuk liku badan seksinya, membuatku memikirkan hal yang bukan-bukan.

Kami duduk di sofa ruangan tengah, mengobrol sembari minum teh hangat.

“Bukannya jadwal lesnya masih tetap 1 jam lagi Bu? ” tanyaku.

“Iya sih. Ibu habis dari rumah rekan Ibu dekat sini, dari pada mondar-mandir, sekalian saja kesini. Lagipula tadi telah gerimis. ” Kami mengobrol cukup lama.

“Sini Bu, cangkirnya agar di isi lagi. ” Saya tawarkan.

“Eh, terima kasih! ” Saya terima cangkir yang diulurkan Bu Shanti serta beranjak ke dapur. Waktu saya membikinkan teh hangat, pikiran-pikiran kotor yang tadi pernah tertahan kembali nampak.

Saya memikirkan kalau Bu Shanti tidak kenakan apa-apa di badannya yang seksi itu. Serta makin kubayangkan gairahku makin menjadi-jadi.

“Ini, Bu! ” Saya menyimpan cangkir teh diatas meja. Bu Shanti tersenyum, “Terima kasih! ” Saya masih tetap berdiri di samping Bu Shanti.

Serta kulihat ia sedikit bingung, “Ada apa, Jo? ” Saya tidak tahu mengapa saya dapat demikian nekat saat itu. Dalam sekejab saya telah memeluk Bu Mona. Bu Shanti  sangatlah terperanjat serta berupaya melepas pelukanku.

Namun tenagaku lebih kuat. Kudorong badan Bu Shanti sampai rebah diatas sofa. “Jo, apa-apaan anda? ” Bu Shanti berontak atas perlakuanku. Tetapi perlukanku makin erat.

Saya berbisik pelan, “Aku mencintaimu, Bu! ” serta kulihat Bu Shanti makin terperanjat. Ia diam terpaku untuk sebentar. Saya memakai saat sebentar itu untuk merenggut terlepas kancing-kancing bajunya.

“Aku menginginkanmu, Bu! ”Kulihat payudara Bu Shanti yang bulat diisi dibalik bra putihnya. Bu Shanti cuma memandangku seolah tidak yakin apa yang barusan berlangsung. Ia telah tidak lagi meronta, kelihatannya telah pasrah bakal apa yang bakal berlangsung.

Pelan-pelan kuturunkan roknya, lantas kulepaskan bra putih itu. Di depanku saat ini terlihat terang payudara Bu Shanti yang sungguh indah, pinggang ramping, pinggul seksi, serta kaki-kaki jenjangnya. Badan Bu Shanti saat ini cuma tertutupi oleh celana dalam putih.

Tanpa ada menanti saya mulai mencumbui badan seksi Bu Shanti . Awal mula dari payudaranya. Kumainkan lidahku, kuciumi dengan penuh nafsu, sesekali lidahku memainkan putingnya yang menantang. Kurasakan badan Bu Shanti tergetar pelan, serta ia mulai mendesah pelan.

Kulanjutkan cumbuanku turun ke arah perut, serta semaki ke bawah. Kulepaskan penutup paling akhir badannya. Waktu itu kudengar nada Bu Shanti memohon pelan.

“Ja.. Janganlah, Jo! ” Namun saya tidak perduli, saya mulai mencumbu sela-sela paha itu. Harumnya liang kewanitaan Bu Shanti membuatku makin bergairah. Kepalaku kusisipkan diantara ke-2 paha Bu Shanti , serta mulai mencumbu liang kewanitaan yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

Kumainkan lidahku disana, terkadang bibirku memainkan klitorisnya sampai badan Bu Shanti bergetar, serta desahan-desahan pelan terdengar dari bibir Bu Shanti waktu jariku menyusup ke vaginanya.

“Mmmh, ya! Oh.. Ya, enak.. Oh.. Oh! ” Lidah nakalku selalu menari-nari disana, menyalurkan kesenangan yang mulai membius kesadaran Bu Shanti . Saat ini Bu Mona mulai tenggelam dalam permainan cumbuanku, desahan serta erangannya menyeimbangi tarian lidahku pada klitorisnya.

Ke-2 pahanya menjepit kepalaku. “Yaa.. Ya! Oh.. Oh, ya sayang.. Lanjutkan.. Oh.. Oh! ” Selang beberapa saat kurasakan getaran hebat badan Bu Shanti . Erangannya juga terdengar makin keras,

“AH.. Ya, ya.. Oh sayang.. Saya.. Saya keluar.. Oh ya.. Ooohh! ” Bu Shanti menggelinjang hibat serta liang kewanitaannya mulai dibanjiri cairan vaginanya, bikin vagina Bu Shanti makin becek. Saya menyapukan lidahku, menjilati cairan itu.

Saya lihat muka cantik Bu Shanti , saat ini bersemu merah, matanya terpejam, nafasnya terengah-engah, bibirnya keluarkan desahan-desahan pelan. Keringat membasahi badannya. Bu Shanti buka matanya, lantas memandangaku.

Masih tetap belum hilang rasa mau tahu dalam pandangan itu, seolah ajukan pertanyaan ‘Mengapa anda lakukan ini pada ibu? ’ namun bibirnya terus terkatup. Kusambut bibir Bu Shanti dengan bibirku. Sepanjang sebagian waktu kami berpagutan.

Serta kurasakan Bu Shanti mulai membalas ciumanku. Saya mulai melepas seluruhnya bajuku. Saat ini kami berdua telah tidak kenakan apa-apa lagi. Senjataku telah tegang mulai sejak tadi, seperti suatu rudal yang siap ditembakkan.

Ukurannya memanglah tak seperti punya bintang film porno yang kerap kulihat, namun cukup besar juga. Bu Shanti memandangku dengan tatapan sangsi bercampur takut. “Maaf, Bu! ” kataku pelan. Kutuntun penisku ke lubang vagina Bu Shanti .

Kurasakan Bu Shanti sedikit menampik waktu kepala penisku menyentuh klitorisnya.

“Ja.. Janganlah, Jo! Ja.. Janganlah dimasukkan, nan.. Kelak.. ”

“Ibu tidak usah cemas, Jo tanggung jawab, ” kataku,

“Jo menyukai Ibu! ”
“Ta.. Namun Jo.. ” Belum usai Bu Shanti bicara, saya telah menusukkan senjataku sampai masuk setengahnya.

“Ah.. Jo! ” Bu Shanti mulai meronta. “Tenang Bu! ” kupegangi ke-2 tangannya. Kurasakan lubang vagina Bu Shanti yang masih tetap sempit itu menjepit penisku serta meremas-remasnya. Saya bertanya-tanya, apa Bu Shanti masih tetap perawan.

Kudorong penisku sampai menyusup lebih jauh. Bu Shanti merintih, “Sa.. Sakit Jo.. ” “Iya.. Iya Bu! Jo pelan-pelan masukinnya. ”

Mungkin saja Bu Shanti nemang masih tetap perawan, pikirku. Kulihat titik-titik air mata mulai basahi matanya, serta ada beberapa yang jatuh ke pipinya.

“Jo.. Hentikan! Ja.. Janganlah diteruskan! ” desah Bu Shanti . Kepalang tanggung, pikirku. Serta kulesakkan penisku sampai masuk semuanya, hingga Bu Shanti menjerit.

“Ah.. Jo, sakit Jo! ”

“Tak apa-apa, Bu. Hanya sebentar sakitnya. ”

Kudiamkan penisku didalam vagina Bu Shanti sepanjang sebagian waktu, kurasakan pijatan lembut dinding vagina pada penisku.

Merasa nikmat sekali. Lantas saya mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, mengocokkan penisku didalam vagina Bu Shanti . Bu Shanti mengerang, awal mulanya tedengar rintihan kesakitan, tetapi makin lama bertukar desahan kesenangan.

“Ya.. Ya, Oh ya sayang! ”Peluh membanjiri badan Bu Shanti , matanya terpejam seolah-olah menjemput kesenangan yang datang bertubi-tubi. Desahannya menemani gerakan pinggulku.

“Oh, ya.. Oh.. Ouh. Selalu sayang! Enak, ja.. Janganlah berhenti, oh.. ” Saya selalu memompa penisku keluar masuk, menggesek dindinjg vagina yang basah itu. Kulihat tangan Bu Shanti meremas-remas payudaranya sendiri. Kesenangan telah menjalari semua tibuhnya.

Desahan serta erangan selalu menggema di ruang itu, berbaur dengan deru nada hujan diluar. Selang beberapa saat kulihat Bu Shanti menggelinjang hebat, serta dari bibirnya terdengar erangan panjang menendakan ia sudah meraih klimaks.

Kurasakan cairan hangat basahi penisku didalam vaginanya. “Oh, oh.. Ya.. Ooohh, sayang! Saya keluar, oh.. Oh..! ” Serta tanpa ada sadar tangannya meraihkui serta memelukku erat sembari selalu mengerang rasakan kesenangan puncak yang kuasai badannya.

“Oh.. Oh, ya ough! ” Nafasnya tersengal-sengal. “Ya, nikmat sekali, oh..! ”Akupun terasa telah nyaris meraih klimaks, jadi kupercepat gerakan pinggulku. Serta kelihatannya gerakanku meningkatkan kembali gairah Bu Shanti . Kurasakan pinggul seksi Bu Shanti menyeimbangi gerakan pinggulku.

“Oh.. Ya.. Oh, lagi sayang.. Oh! ” desah Bu Shanti , ”Lebih cepat lagi.. Oh.. Oh!! ” Serta selang beberapa saat kurasakan penisku berdenyut-denyut.

“A.. Saya nyaris keluar Bu! ” kataku, ”Keluarin dimana? ”

“Oh.. Keluarin saja.. Didalam.. Tidak apa-apa.. ” Serta saat itu juga saya meraih puncak, penisku memuntahkan banyak cairan mani ke vagina Bu Shanti , penuhi rongga kewanitaannya.

“Ough.. Bu! Saya keluar, Bu! Oh nikmat sekali, oh..! ” Bu Shanti menggelinjang lagi, ia meraih klimaks lagi sebentar sesudah saya orgasme.

“Ya.. Oh, ya sayang.. Saya juga keluar.. Oh.. Oh.. ”Tubuh kami bersimbah peluh, saya rasakan sangatlah capek. Badanku kurebahkan di sofa di samping badan Bu Shanti . Nafas kami tersengal-sengal. Kulihat muka Bu Shanti yang bersemu merah terlihat cantik, ia tersenyum.

“Kau.. Kau nakal Jo! ” tuturnya pelan,

”Tapi saya suka. ”

“I.. Ibu tak geram? ” Bu Shanti mencium bibirku.

“Aku memanglah geram pada awalnya, tapi-sudahlah-semuanya telah berlangsung, ” tuturnya, “Kau hebat! ”Hujan masih tetap turun dengan derasnya.

Adikku menelpon, tuturnya ia belum dapat pulang lantaran hujan belum reda. Serta saya menggunakan sore itu berdua berbarengan Bu Shanti . Kami masih tetap pernah bermain cinta sekali lagi saat sebelum ke-2 orang-tua serta adikku pulang.

Mulai sejak waktu itu saya terasa hubunganku dengan Bu Shanti makin dekat, semestinya sepasang kekasih. Bu Shanti jadi lebih ramah padaku. Terkadang bila ada saat senggang, saya main ke rumah Bu Shanti , atau bila rumahku sepi,

Saya mengundang Bu Shanti ke rumahku, serta kami dapat menggunakan sore dengan bermain cinta. Jalinan kami bertahan sepanjang 6 bln., serta selesai waktu saya lulus SMU serta mesti meneruskan ke perguruan tinggi di kota lain

No comments:

Post a Comment